Article Details

Temukan inspirasi dan wawasan seputar perhotelan, kapal pesiar, dan industri pariwisata di Article kami. Langkah kecil menuju sukses dimulai di sini.

Alasan yang Mempengaruhi Pelanggan Memberikan Tips Pada Waiter

Alasan yang mempengaruhi pelanggan memberikan tips pada waiter atau pelayan, di berbagai tempat, baik restoran maupun hotel sangat beragam. Banyak latar belakang yang mempengaruhi pelanggan atau tamu mau memberikan tip dengan cuma-cuma.

Konsep memberikan tip sendiri pertama kali lahir di Inggris pada abad ke-16. Memberikan uang lebih pada awalnya dilakukan oleh sejumlah tamu yang menginap di sebuah penginapan kepada pemilik penginapan.  kemudian mulai menyebar ke berbagai penjuru dunia. Namun, ada beberapa pertanyaan menarik dan menggelitik yang selalu hadir di kepala kita. Mengapa orang rela memberikan tip?

Orang-orang yang kerap jalan-jalan berkeliling dunia sudah pasti tahu bahwa memberikan tip, kapan, berapa banyak dan kepada siapa tip diberikan, berbeda-beda, tergantung dengan lokasi. Jika di Amerika Serikat, tip diberikan kepada pelayan restoran sebesar 15-25%, sementara di Brazil sebesar 10% dan Swedia, 5% sampai 10%.

Michael Lynn, seorang profesor di bidang manajemen makanan dan minuman Universitas Cornell, pernah menuturkan, jika semakin ekstrover karakter penduduk suatu negara, maka semakin besar tip yang akan diberikan.

Tetapi menurutnya, itu bukan satu-satunya penyebab penduduk suatu negara mau memberikan tip lebih besar dibanding warga negara yang lain. Ada banyak sebab yang melatar belakanginya, seperti norma sosial, tingkat penghasilan dan ketentuan apakah memberikan tip adalah keharusan atau tidak, juga berperan besar.

Sebuah poenelitian lain membuktikan bahwa budaya memberikan tip ternyata bisa menular. Pada 2016, sebuah studi memperlihatkan bahwa berkunjung ke Amerika Serikat adalah salah satu alasannya. Seorang profesor dari Universitas Pennsylvania, Edward Mansfield menyebut bahwa mahasiswa asing atau turis yang sudah berkunjung ke Amerika, akhirnya kerap menerapkan kebiasaan tersebut di negaranya sendiri.

Setiap orang punya alasannya masing-masing untuk memberikan tip. Ada yang beralasan agar layanan pada kunjungan berikutnya menjadi lebih baik, ada juga yang memberikan tip untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Sisi menarik lain dari dari tip adalah kebijakan ini ternyata memiliki pengaruhi terhadap kepuasan konsumen. Dalam artikel yang ditulis Lynn dan Zachary Brewster memperlihatkan bahwa restoran akan diberikan rating “kurang baik” oleh konsumen jika menerapkan kebijakan 'tidak menerima tip'. berbeda jika kebijakan tip diganti dengan 'biaya-tambahan wajib', ulasan terhadap restoran itu akan menjadi lebih buruk lagi.

Banyak pelanggan cenderung menilai dengan adanya tip maka pelayanan yang diberikan akan lebih baik. Selain itu tip juga bisa mengurangi harga menu di restoran, karena biaya pelayanan tidak dimasukkan ke harga menu tersebut. Sehingga jika tip dihapus dan dimasukkan langsung ke menu, kesan yang munjul adalah restoran akan menjadi lebih mahal.

Namun, nyatanya ada sebuah pengecualian. Pengecualian ini berlaku untuk restoran kelas atas yang memasukkan biaya layanan ke harga menu, ternyata tidak mendapatkan ulasan buruk dari pelanggan.

Restoran mahal kelas atas punya cara lain untuk memperlihatkan bahwa layanan mereka memang sudah yang terbaik. pelanggan akan menilai karena harganya mahal, maka pelayanannya pasti juga sangat bagus dan memuaskan.

Pengertian Tip Menurut Para Ahli

Dalam the New Grolier International Dictionary of the English Language (1976), tip didefinisikan sebagai “a small present of money bestowed for services, as to a porter, cab driver, or waiter”. Tip adalah sejumlah kecil uang yang diberikan atas servis, seperti kepada porter di hotel, supir taksi, atau kepada waiter di restoran.

Sedangkan Mathews (2005) mengatakan bahwa tip adalah “a gift, usually in the form of money, given in return for services”, atau tip adalah hadiah atau pemberian, biasanya berbentuk uang, diberikan sebagai imbalan atas servis.

Ayres dan Nalebuff (2004) mengatakan bahwa tip berasal dari istilah “To Insure Promptness”, yang secara harafiah artinya adalah untuk menjamin ketangkasan. Maksudnya adalah pemberian tip mempunyai tujuan untuk memancing seseorang untuk dapat memberikan servis yang cepat dan baik. Sedangkan Tomren (2004) beranggapan, tujuan pemberian tip adalah untuk menunjukkan apresiasi atau penghargaan atas servis yang baik.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh tipping.org pada tahun 2001, ada 7 alasan pelanggan memberikan tip (www.tipping.org):

  1. Membayar servis yang didapat; tip merupakan balasan dari servis yang diberikan oleh waiter, membawakan makanan dari dapur hingga ke meja pelanggan.
  2. Pelanggan merasa diperlakukan dan dilayani dengan baik Tip merupakan balasan dari perhatian dan perlakuan waiter kepada pelanggan di restoran.
  3. Waiter mendapatkan gaji yang minim.
  4. Pekerjaan waiter restoran merupakan pekerjaan yang sangat berat/susah/penuh tekanan, dan lainlain.
  5. Semua orang memberikan tip
  6. Gengsi
  7. Dapat membuat pelanggan merasa baik hati

Selanjutnya, menurut Klara (2005), besarnya jumlah tip yang diberikan oleh pelanggan tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas layanan tetapi dipengaruhi juga keadaan social, kondisi psikologis, dan faktorfaktor lain dari pelanggan seperti:

  1. Metode pembayaran; pelanggan cenderung memberikan tip lebih ketika membayar dengan kartu kredit daripada ketika membayar tunai.
  2. Group size dari pelanggan; pelanggan yang datang dalam grup besar, cenderung memberikan tip yang sedikit walaupun grup tersebut membayar cukup banyak.
  3. Jenis minuman yang dikonsumsi; pelanggan yang mengkonsumsi alkohol di suatu restoran atau bar sering mengalami kesulitan dalam menghitung jumlah tip yang harus diberikan.
  4. Cuaca; cuaca yang bagus dan menyenangkan dapat merangsang pelanggan memberikan tip yang besar.
  5. Pria yang makan malam dengan seorang wanita cenderung memberikan tip besar untuk menunjukkan bahwa pria tersebut adalah tipe pria yang eksekutif, professional dan royal.
  6. Mood; pelanggan yang sedang memiliki mood yang bagus cenderung memberikan tip yang lebih. Lebih jauh, dalam memberikan tip, pelanggan juga menilai beberapa faktor dari sisi waiter yang dapat menentukan jumlah tip yang akan diberikan.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah tip yang diberikan kepada waiter di suatu restoran:

  1. Keramahan dan tingkah laku waiter
  2. Kualitas makanan
  3. Seberapa besar inisiatif seorang waiter dalam melayani pelanggan
  4. Langkah dalam menyajikan makanan (service sequence)

Penyajian makanan harus sesuai dengan waktu yang tepat, sehingga pelanggan tidak menunggu terlalu lama untuk menikmati hidangan yang dipesan. (www.ks.essortment.com)